Ketika ide awal aplikasi Maslam mulai dirancang sebagai solusi digitalisasi manajemen masjid banyak yang skeptis. Hambatan yang sering disebutkan adalah usia para pengurus masjid yang mayoritas berusia di atas 45 tahun, bahkan sebagian besar sudah memasuki masa pensiun. Mereka dianggap tidak akrab dengan teknologi, sulit belajar hal baru, dan lebih nyaman dengan cara-cara konvensional. Tidak sedikit yang meramalkan bahwa program ini akan gagal, hanya menjadi wacana tanpa realisasi. Namun, keyakinan bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk mempermudah pengelolaan masjid tetap menjadi semangat utama kami.  

Ternyata, skeptisisme itu terbukti keliru. Implementasi Maslam justru membuktikan bahwa usia bukanlah hambatan. Banyak pengguna setia Maslam adalah para pensiunan yang, meskipun telah berusia senja, memiliki semangat belajar yang luar biasa. Mereka dengan sabar mengikuti pelatihan, mengisi data, dan menggunakan aplikasi untuk melaporkan keuangan, mengelola ZISWAF, hingga mencatat kegiatan masjid dan juga data-data lainnya. Tekad mereka untuk terus berkontribusi bagi masjid, meski di usia lanjut, menjadi inspirasi yang luar biasa. Para pengurus masjid ini telah membuktikan bahwa keinginan untuk berbuat baik jauh lebih penting daripada kemampuan awal dalam teknologi.  

Sebaliknya, tantangan justru datang dari kelompok yang lebih muda, yang usianya di bawah 40 bahkan 30 tahun. Di usia produktif, banyak yang seharusnya lebih akrab dengan teknologi dan memiliki energi lebih untuk berkontribusi. Namun, tidak sedikit yang enggan menggunakan Maslam. Alasan yang muncul beragam, mulai dari ketidakinginan untuk transparan kepada jamaah, hingga ketidakmauan meluangkan waktu di tengah kesibukan kerja atau kegiatan lainnya. Sikap ini seringkali menjadi ironi yang menyedihkan, karena mereka yang memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan masjid justru memilih untuk pasif.  

Pengalaman ini mengajarkan satu hal penting: keberhasilan implementasi teknologi, khususnya dalam pengelolaan masjid dan lembaga keagamaan, tidak ditentukan oleh usia, tetapi oleh niat dan kepedulian. Generasi tua yang sering diragukan justru menjadi pelopor perubahan, sementara sebagian generasi muda, yang memiliki akses dan kemampuan lebih baik, masih terjebak dalam zona nyaman mereka. Semoga cerita ini menggugah hati kita semua untuk lebih peduli, karena masjid bukan hanya milik satu generasi, tetapi tanggung jawab bersama untuk dikelola demi kebaikan umat. Maslam hadir untuk mempermudah, bukan membebani; tinggal kita memilih, ingin menjadi bagian dari solusi atau hanya diam di tempat.


kunjungi kami di https://maslam.id