Di sebuah masjid yang selalu penuh keberkahan, terdapat konflik yang tak terduga merayap perlahan. Ketua DKM, Ustadh Ali, dan bendahara, Ibu Fatimah, dikenal sebagai sosok yang jujur dan dedikatif. Namun, keadaan mulai meruncing ketika terjadi miss manajemen keuangan yang menimbulkan ketidaksesuaian dalam pencatatan.
Suatu sore, di ruang pertemuan DKM, suasana terasa tegang. Ustadh Ali, dengan wajah serius, memandang laporan keuangan yang membingungkan. Ibu Fatimah, yang biasanya ceria, terlihat khawatir. Mereka berdua bertanya-tanya, bagaimana bisa hal ini terjadi? Dialog pun dimulai.
Ustadh Ali: "Fatimah, apa yang terjadi dengan laporan keuangan kita? Ada beberapa transaksi yang tidak sesuai, dan angka-angkanya tidak mencocokkan."
Ibu Fatimah: "Saya tidak yakin, Ustadh. Saya sudah memeriksa berkali-kali, tapi sepertinya ada yang tidak beres. Mungkin ada yang salah di catatan donasi atau pengeluaran."
Seiring waktu berlalu, berita tentang ketidaksesuaian laporan mulai menyebar di kalangan jamaah. Beberapa orang mulai meragukan integritas Ustadh Ali dan Ibu Fatimah. Ketidakpercayaan ini menimbulkan kegelisahan, dan ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memanas-manasi situasi.
Jamaah 1: "Saya dengar ada masalah keuangan di masjid. Apa benar, ya?"
Jamaah 2: "Entahlah, tapi sepertinya Ustadh Ali dan Ibu Fatimah tidak bisa dipercaya. Mereka mungkin menyembunyikan sesuatu."
Jamaah 1: "Saya pikir kita harus mempertanyakan mereka. Kita tidak boleh diam saja."
Semakin panas suasana di masjid, Ustadh Ali dan Ibu Fatimah merasa tertekan. Mereka sadar bahwa masalah ini dapat merusak reputasi masjid. Di tengah ketegangan, muncullah seseorang yang ingin memberikan solusi.
Jamaah 3: "Mengapa kita tidak menggunakan sistem manajemen keuangan yang lebih modern? Sepertinya ini hanya masalah miss manajemen. Dengan teknologi yang tepat, kita bisa mengatasi ini dan kembali fokus pada tujuan utama masjid."
Usulan tersebut membuat semua orang berpikir. Keberhasilan mengatasi konflik ini mungkin ada di tangan teknologi yang lebih maju. Apakah mereka bersedia membuka diri terhadap inovasi, ataukah akan terus tenggelam dalam konflik yang semakin meruncing?