Pagi itu, setelah bulan Ramadan selesai, saya memeriksa berbagai laporan masjid. Saya teringat bahwa data zakat fitrah perlu dicek, bukan hanya untuk pelaporan, tetapi juga untuk memastikan semua penyalurannya tepat sasaran. 

Dengan penuh semangat, saya mendatangi Bapak A, yang sering menjadi rujukan pertama di masjid.  

"Pak A, data zakat fitrah siapa saja yang memberikan sudah ada, kan?" tanya saya.  

Namun, Bapak A menggeleng pelan sambil tersenyum, "Wah, kalau soal itu, coba tanya ke Bapak B. Saya hanya pegang laporan kas umum saja."  

Tidak mau buang waktu, saya langsung menuju ke Bapak B. Dengan tenang, beliau menunjukkan sebuah laporan.  

"Ini, Kang Sys, data zakat fitrah. Tapi, yang ada hanya total penerimaan per hari."  

Saya memeriksa laporan itu dengan seksama. Angkanya rapi, tetapi saya tidak menemukan informasi siapa saja yang memberikan zakat fitrah atau detail ZISWAF lainnya.  

"Pak, ini kan cuma jumlah total. Data pemberinya di mana?" tanya saya lagi.  

"Kalau mau data detail, coba tanya ke Bapak C. Sepertinya dia yang pegang," jawab Bapak B.  

Sesampainya di tempat Bapak C, saya menyampaikan maksud kedatangan saya. Dengan cekatan, beliau menunjukkan data yang cukup lengkap. Ada tanggal, daftar penerima, dan jumlah yang disalurkan. Saya merasa lega—akhirnya, data yang saya cari mulai terlihat. Namun, ada satu hal yang mengganjal.  

"Pak C, penerima zakat fitrah ini siapa saja yang terima?" tanyaku penasaran.  

Bapak C tampak kebingungan. "Wah, Kang, saya nggak tahu soal itu. Untuk detail pemberiannya, coba tanya ke Bapak A. Kalau nggak salah, beliau yang tahu."  

Saya menarik napas panjang, lalu kembali menemui Bapak A.  

"Pak A, kata Bapak C, Bapak tahu siapa saja penerima zakat fitrah?"  

Bapak A tersenyum sambil menyeruput teh hangatnya. "Oh, itu bukan saya, Kang. Yang tahu persis soal distribusinya adalah Ustadz Fulan. Dia yang handle semuanya. Saya nggak pernah minta datanya karena saya yakin beliau adalah ustadz di masjid kita dan pasti orang terpercaya."  

Mendengar jawaban itu, saya tersenyum. Meski rasa percaya kepada Ustadz Fulan memang tidak perlu diragukan, sebagai pengelola masjid, saya tetap merasa bahwa transparansi itu penting, memastikan zakat fitrah sampai ke orang yang tepat adalah sebuah keharusan. Sebuah sistem pencatatan yang lebih rapi perlu dibuat agar semua data mudah diakses dan tidak hanya bergantung pada satu orang.  

Di tengah kerumitan itu, saya berpikir: mungkin sudah saatnya Maslam, aplikasi digitalisasi masjid yang kami kembangkan, menjadi solusi untuk persoalan seperti ini. Tidak ada lagi kebingungan mencari data dari satu pintu ke pintu lain. Semua tersimpan rapi dalam satu tempat, siap diakses kapan saja.  

Dengan niat dan semangat baru, saya pulang ke rumah. Pekerjaan masih panjang, tapi keyakinan bahwa perubahan lebih baik sedang diupayakan membuat langkah saya terasa lebih ringan. “InsyaAllah, semua ini untuk keberkahan umat,” pikir saya sambil melangkah pergi.  

Data itupun tidak pernah saya dapatkan sampai hari ini, misteri....


Kunjungi kami di maslam.id